H. Akbar
Komunitas Pecinta Sedekah
Seorang pria bernama Mukhlis tengah
mendekam di Lapas Sukamiskin, Bandung. Bisnis yang begitu menggiurkan
sesaat membuatnya terjerembab hutang hingga lebih dari Rp 2 milyar. Ia
tak sanggup bayar dan perusahaan kreditur pun memperkarakannya hingga ia
dipenjara.
Hari itu adalah Ahad, sudah dua pekan lebih Mukhlis
berada di dalam sel sempit di balik jeruji. Ia merasa sedih dan
kesepian. Kebebasan yang biasa ia hirup sebelumnya kini hanya tinggal
kenangan. Jangankan untuk bersenang-senang dengan rekan dan sahabat,
untuk berkumpul dengan keluarga tercinta saja sudah tidak lagi bisa.
Mukhlis merasa sedih, dan ia berjanji tidak ingin lagi hidup seperti
ini. Berkali-kali dengan mulutnya ia gumamkan doa kepada Allah Sang Maha
Penolong dari balik jeruji agar ia dapat menyelesaikan perkara dan
segera bebas dari penjara dan kembali ke rumah untuk berkumpul bersama
keluarga.
Dalam kesedihan yang Mukhlis alami, tiba-tiba seperti ijabah doa yang
datang dari Allah Swt maka Mukhlis dapati ustadz Iman sedang berkeliling
dari satu sel ke sel lainnya. Ustadz Iman adalah pembimbing rohani
Islam para tahanan yang kerap memberikan pelajaran mental bagi setiap
tahanan yang ada di Lapas Sukamiskin. Sepekan dua kali biasanya ustadz
Iman datang ke lapas. Demi melihat datangnya ustadz Iman maka Mukhlis
pun memanggil beliau dari balik jeruji.
Terjadilah obrolan antara Mukhlis dan ustadz Iman. Banyak nasehat yang
disampaikan sang ustadz kepada Mukhlis, termasuk salah satu nasehatnya
adalah agar Mukhlis rajin bersedekah. Ustadz Iman menyampaikan bahwa
sedekah itu menjadi salah satu cara yang membuat datangnya pertolongan
Allah Swt.
Mukhlis meresapi nasehat itu, maka sejurus kemudian ia bangkit untuk
mengambil sesuatu. Ia buka tas dan dari dalam tas tersebut ia ambil uang
sejumlah Rp 1 juta dan ia berikan kepada sang ustadz.
“Ustadz..., mohon salurkan uang ini sebagai sedekah saya. Terserah
ustadz mau berikan kepada siapa... saya berharap dengan sedekah ini saya
akan mendapat pertolongan Allah seperti yang ustadz sampaikan kepada
saya!”
Sang Ustadz menerima sedekah Mukhlis. Beliau berjanji untuk menyalurkan
sedekah tersebut selekas mungkin. Tak lupa sang Ustadz mendoakan Mukhlis
agar segala masalah yang ia hadapi diberi kemudahan oleh Allah Swt.
Sejurus kemudian ustadz Iman pun berlalu meninggalkan Mukhlis.
Ustadz Iman kembali ke kampungnya. Sebelum beliau tiba di rumah beliau
menyempatkan untuk mampir di sebuah warung kecil. Beliau membeli sesuatu
di sana. Teringat akan titipan sedekah Mukhlis, maka ustadz Iman pun
berbincang dengan pemilik warung.
“Bu, punten..., apakah di warung ini ada orang-orang miskin yang punya
hutang dan belum bisa terlunaskan?!” tanya ustadz Iman kepada ibu
pemilik warung.
“Ada ustadz....! ada beberapa orang susah yang punya hutang di warung saya.” jawab ibu pemilik warung.
“Berapa orang bu kira-kira jumlah mereka dan besaran hutangnya?!” kejar ustadz Iman lagi.
Maka ibu pemilik warung pun menceritakan bahwa ada sejumlah orang miskin
yang berhutang di warungnya, dan itu membuat usahanya sulit berkembang
sebab modal yang ia putar tertahan oleh hutang-hutang mereka.
Sang ibu pemilik warung menyebutkan sejumlah nama, namun setelah
dihitung semua orang itu memiliki jumlah hutang Rp 1,8 juta. Sang ibu
mengutarakan; biasanya mereka berhutang keperluan sehari-hari seperti
sembako, namun rupanya mereka selalu tidak mampu membayar hutangnya
sementara sang ibu tidak tega kalau mendengar mereka mengiba, maka ia
pun memberikan izin kepada mereka untuk berhutang di warungnya.
Usai mendapat penjelasan dari ibu pemilik warung maka ustadz Iman
menjelaskan bahwa ia memiliki titipan sedekah sebesar 1 juta rupiah.
Beliau meminta kepada ibu pemilik warung untuk menghitung siapa saja
kiranya yang bisa ditolong agar terbebas dari hutang.
Sang ibu pemilik warung amat senang mendengarnya. Maka ia memberikan
data orang-orang susah yang kerap berhutang di warungnya. Setelah
dihitung maka ada 7 nama di antara mereka yang bisa dilunaskan hutangnya
dengan uang sedekah 1 juta rupiah tersebut.
Dengan baca basmalah ustadz Iman menyerahkan uang sedekah Mukhlis kepada
ibu pemilik warung. Sang ibu berucap syukur dan ia mengangkatkan tangan
seraya berdoa kepada Allah Swt atas anugerah-Nya yang telah menggerakan
hati Mukhlis, orang yang tidak dikenalnya, untuk mau melunasi
hutang-hutang orang susah yang ada di warungnya.
Ibu pemilik warung berjanji kepada ustadz Iman untuk memberitahukan
kepada 7 nama tadi kabar gembira ini. Maka saat kesemua nama tadi
mendapatkan kabar tersebut maka mereka pun bersyukur kepada Allah Swt
dan mendoakan Mukhlis dengan penuh kesungguhan.
Ina, istri Mukhlis datang berkunjung ke lapas pada hari Kamis. Ada gurat
kegembiraan pada wajahnya. Saat Mukhlis datang di ruang besuk, maka Ina
bangkit dari duduknya dan ia tak kuasa menahan tangis. Mukhlis kaget
melihat istri tercintanya menangis. Mukhlis menanyakan apa gerangan
namun Ina tidak mampu menjawab apa-apa. Tubuhnya bergetar dan terlihat
banyak air mata yang mengalir di pipinya. Ina mengeluarkan secarik surat
berwarna putih dari tasnya. Surat itu ia serahkan kepada Mukhlis dan
langsung surat itu dibaca.
Tidak banyak kata dan kalimat tertulis dalam surat itu. Namun demi
membaca surat tersebut, maka Mukhlis pun tertunduk dan mulai meneteskan
air mata haru.
“Allahu akbar.... Allahu Akbar.... Allahu Akbar....
Alhamdulillah ya Rabb.... sungguh Engkau Maha Penolong dan Maha
Pemurah... Engkau tolong hamba-Mu yang lemah ini untuk keluar dari
masalah” pekik Mukhlis dalam doa.
Dalam surat tertanggal hari Selasa dua hari yang lalu tertulis bahwa
perusahaan tempat Mukhlis berhutang menyatakan bahwa hutangnya SEBESAR 1
MILYAR RUPIAH TELAH DIHAPUSKAN!
Mukhlis dan Ina saling berpegangan tangan. Mereka sungguh bahagia
mendengar berita gembira ini. Berita ini sungguh membuat beban hutang
Mukhlis bertambah ringan. Maka usai bertemu dan bertukar kabar, beberapa
saat kemudian Ina pun berpamitan untuk pulang ke rumah.
Keesokannya adalah hari Jumat. Seluruh penghuni lapas bersiap untuk
melaksanakan shalat Jum'at. Saat menanti datangnya waktu Jum'at tiba
Mukhlis mengisinya dengan dzikir dan i'tikaf. Begitu adzan Zuhur
dikumandangkan maka naiklah sang khatib yang tiada lain adalah ustadz
Iman. Saat menyimak khutbah Jum'at yang disampaikan ustadz Iman maka air
mata Mukhlis kembali menetes deras. Mukhlis mengingat perjumpaannya
dengan ustadz Iman pada hari Ahad lalu dan ia teringat sedekah satu juta
rupiah yang ia titipkan kepada beliau. Sungguh sedekah itu telah
dibayar Allah Swt hanya dalam tempo 2 hari menjadi 1000 kali lipat.
Saat shalat Jum'at usai, maka Mukhlis mendatangi ustadz Iman. Ia
menyampaikan ucapan terima kasih yang berulang-ulang atas bantuan ustadz
Iman menyalurkan sedekahnya. Ustadz Iman pun kembali mengucapkan terima
kasih. Beliau sampaikan bahwa pemilik warung dan 7 orang yang berhutang
juga turut berterima kasih kepada Mukhlis dan mendoakan. Mendengarkan
penuturan ustadz Iman kembali air mata haru mengalir deras di pipi
Mukhlis.
Sambil terisak Mukhlis berkata kepada ustadz Iman, “Ustadz..., janji
Allah Swt yang ustadz sebutkan bagi orang yang bersedekah sungguh kini
telah saya rasakan. Sedekah saya kemarin dalam dua hari sungguh telah
Allah bayarkan kepada saya sebesar 1000 kali lipat!”
Mukhlis pun merangkul erat tubuh ustadz Iman. Kedua manusia itu tak
henti-hentinya berucap hamdalah dan bersyukur kepada Allah Swt. Ada
kebahagiaan yang tiada terperi di hati kedua manusia itu. Keduanya
menjadi saksi atas janji Allah, bahwa masalah yang dihadapi bisa mudah
diatasi asalkan kita saling menolong terhadap sesama.
Sumber : http://jiwasedekah.blogspot.com/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar