H. Akbar
Komunitas Pecinta Sedekah
Banyak orang mengira bahwa menjalankan
perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya merupakan
sebuah upaya yang sama sekali tidak menyenangkan, apalah lagi
mendatangkan kelezatan. Namun, sebenarnya hal ini adalah sebuah perkara
yang sudah dijelaskan oleh agama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan
merasakan manisnya iman, orang yang merasa ridha Allah sebagai rabbnya,
islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai rasulnya.” (HR.
Muslim). Jelas sekali dari hadits yang mulia ini bahwa dengan sebab
ketaatan seorang hamba akan bisa merasakan kenikmatan berupa manisnya
keimanan.
Mengapa anggapan negatif semacam itu
muncul, sehingga mengesankan bahwa jalan agama merupakan jalan yang
tidak menjanjikan kenikmatan apa-apa? Banyak faktor yang mengelabui
manusia sehingga membuat mereka memiliki persepsi yang salah semacam
itu. Di antaranya adalah unsur kecintaan kepada dunia -yang notabene
sementara dan fana- dan melupakan akherat -padahal akherat itu kekal dan
abadi-. Dunia, dengan segenap perhiasannya telah banyak menipu orang.
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang
menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, maka akan Kami sempurnakan
baginya balasan amalnya di sana dan mereka tak sedikitpun dirugikan.
Mereka itulah orang-orang yang tidak mendapatkan apa-apa di akherat
kecuali neraka dan lenyaplah apa yang mereka perbuat serta sia-sia apa
yang telah mereka kerjakan.” (QS. Huud: 15-16)
Gara-gara dunia, sebagian orang pun rela menjual agamanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersegeralah
dalam melakukan amal-amal, sebelum datangnya fitnah-fitnah bagaikan
potongan-potongan malam yang gelap gulita, sehingga membuat seorang yang
di pagi hari beriman namun di sore harinya menjadi kafir, atau sore
harinya beriman namun di pagi harinya menjadi kafir, dia menjual
agamanya demi mendapatkan kesenangan duniawi semata.” (HR. Muslim)
Berbicara soal cinta dunia, tak bisa
lepas dari godaan harta, wanita, ataupun tahta. Iblis dan bala
tentaranya telah sekian lama berkecimpung dalam dunia ‘fitnah’ ini untuk
menjebak manusia ke jurang-jurang kebinasaan, melalui pintu harta,
wanita, atau tahta. Soal harta, bukanlah perkara yang ringan.
Sampai-sampai seorang sahabat yang mulia sekelas Umar bin Khattab pun
mengakui dalam sebuah ucapannya, “Ya Allah, kami tidak mampu
melainkan merasakan gembira terhadap sesuatu yang Kamu hiasi/jadikan
indah bagi kami -yaitu harta, wanita, dan anak-anak-. Ya Allah, maka aku
memohon kepada-Mu agar dapat menginfakkannya di jalannya yang benar.” (HR. Bukhari secara mu’allaq).
Karena banyaknya orang yang tertipu oleh harta, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengingatkan kepada mereka. Beliau bersabda, “Bukanlah
kekayaan itu dengan banyaknya perbendaharaan dunia. Akan tetapi
kekayaan yang sebenarnya adalah rasa cukup di dalam hati.” (HR. Bukhari).
Siapa yang mengatakan bahwa dengan dua
atau tiga lembah emas manusia akan merasa cukup, dengan gaji dua atau
tiga ratus juta per bulan orang akan merasa puas, siapa yang
mengatakan…? Sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah mempersaksikan, “Seandainya
anak Adam itu memiliki dua lembah emas niscaya dia akan mencari yang
ketiga. Dan tidak akan mengenyangkan rongga/perut anak Adam selain
tanah. Dan Allah akan menerima taubat siapa pun yang mau bertaubat.” (HR. Bukhari)
Di sisi lain, orang-orang yang berpeluh
keringat dan pusing tujuh keliling di atas jalan ketaatan merasakan
bahwa apa yang mereka lakukan tidak mendatangkan keuntungan duniawi
apa-apa. Waktu mereka ‘terbuang’, harta mereka ‘berkurang’, keinginan
mereka terkekang; seolah-olah dunia ini telah menjadi sebuah penjara
besar yang memasung segala keinginan dan harapan mereka untuk mencapai
kenikmatan.
Janganlah anda heran, sebab memang
demikianlah keadaan orang-orang yang belum mengenali karakter kehidupan
dunia dan kebahagiaan sejati yang akan dirasakan oleh setiap mukmin di
dalamnya. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Dunia ini
laksana seorang wanita pelacur yang tak pernah mau setia kepada satu
suamipun melainkan sebatas harga transaksi pelacuran…” Maka orang yang
tertipu oleh dunia adalah orang yang rela menjual agama dan
kehormatannya demi meraih kenikmatan semu yang berakhir dengan siksa,
kepedihan, dan penyesalan.
Padahal, para ulama salaf kita
mengatakan, “Sesungguhnya di dunia ini ada sebuah surga, barangsiapa
yang tidak memasukinya niscaya dia tidak akan memasuki surga di
akherat.” Sebagian mereka juga berkata, “Banyak para penghuni dunia yang
keluar dari alam dunia sementara mereka belum merasakan sesuatu yang
paling nikmat di dalamnya.” Kenikmatan itu tiada lain adalah mengenal
Allah dan merasa tentram dengan segala keputusan-Nya.
Itulah orang yang bisa merasakan
kelezatan iman, apabila dia mencintai maka cintanya karena Allah,
apabila dia membenci maka bencinya karena Allah, apabila dia memberi
maka pemberiannya juga karena Allah, demikian pula apabila tidak memberi
maka hal itu pun karena Allah.. Oleh sebab itu, Allah ta’ala
mensifati orang-orang beriman dengan sifat-sifat yang menggambarkan
kelapangan dada mereka terhadap apa yang ditetapkan-Nya. Allah
menggambarkan bahwa hati mereka tidak merasa sempit atas apa yang
diputuskan oleh Rasul-Nya. Hati mereka bergetar saat teringat
kepada-Nya, dan bila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya maka
bertambahlah keimanan mereka, dan mereka tidak menggantungkan harapan
kecuali kepada-Nya semata.
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan
tidaklah pantas bagi seorang mukmin lelaki ataupun perempuan, apabila
Allah dan rasul-Nya telah memutuskan suatu perkara kemudian masih ada
bagi mereka alternatif lain dalam urusan mereka…” (QS. al-Ahzab: 36). Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Demi
Rabbmu, sekali-kali mereka itu tidaklah beriman, sampai mereka
menjadikanmu -Muhammad- sebagai hakim atas segala yang mereka
perselisihkan di antara mereka, lalu mereka tidak mendapati rasa sempit
di dalam hati mereka atas keputusan yang kamu berikan, dan mereka pun
pasrah dengan sepenuhnya.” (QS. an-Nisaa’: 65). Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya
orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang apabila
disebutkan nama Allah maka bergetar/takutlah hati mereka, dan apabila
dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya maka semakin bertambahlah keimanan
mereka. Dan mereka hanya bertawakal kepada Rabbnya.” (QS. al-Anfaal: 2)
Dan mereka -kaum beriman- adalah orang-orang yang tidak menyimpan keraguan terhadap apa yang dijanjikan oleh Allah. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan ketika orang-orang yang beriman melihat golongan-golongan yang bersekutu itu -untuk menghancurkan pasukan Islam- maka mereka berkata, ‘Inilah yang dijanjikan Allah dan rasul-Nya, dan Maha benar Allah dan rasul-Nya.’ Dan tidaklah hal itu melainkan menambahkan kepada mereka keimanan dan kepasrahan.” (QS. al-Ahzab: 22). Sebaliknya, kalau kita perhatikan sosok orang-orang kafir dan munafik, maka Allah mensifati mereka dengan keragu-raguan terhadap janji Allah. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan ingatlah ketika orang-orang munafik serta orang-orang yang di dalam hatinya terdapat penyakit itu mengatakan: Yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami hanya tipu daya belaka.” (QS. al-Ahzab: 12). Maka di posisi mana kita berada?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar