Hai orang-orang yang beriman. Nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik (QS Al-Baqarah : 267) --- Dengan bersedekah seribu rupiah sehari Anda telah membantu membebaskan orang miskin dari kesulitan hidup mereka --- Semoga Allah selalu memberi kemudahan bagi setiap amal kita --- Donasi disalurkan lewat Bank Mandiri Cabang Bogor Rek No 133-00-0567361-1 a/n Drs. Akbar --- Konfirmasi transfer ke 087770585383

Sabtu, 25 Agustus 2012

Membuka Pintu Surga

H. Akbar
Komunitas Pecinta Sedekah
Yayasan Arrafiiyah

Tidak seperti biasanya, hari itu Ali bin Abi Thalib pulang lebih sore menjelang Ashar. Fatimah binti Rasulullah menyambut kedatangan suaminya yang sehari suntuk mencari rezeki dengan sukacita. Siapa tahu Ali membawa uang lebih banyak karena kebutuhan di rumah makin besar. Sesudah melepas lelah, Ali berkata kepada Fatimah, “Maaf, Sayangku, kali ini aku tidak membawa uang sepeser pun”. Fatimah menyahut sambil tersenyum, “Memang yang mengatur rezeki tidak duduk di pasar, bukan? Yang memiliki kuasa itu adalah Allah Ta’ala”. “Terima kasih,” jawab Ali. Matanya memberat lantaran istrinya begitu tawakal. Padahal persediaan dapur sudah ludes sama sekali. Toh Fatimah tidak menunjukkan sikap kecewa atau bersedih.

Ali lalu berangkat ke masjid untuk menjalankan shalat jama’ah. Sepulang dari sembahyang, di tengah jalan ia dihentikan oleh seorang tua. “Maaf, anak muda, betulkah engkau Ali anak Abu Thalib?” Ali menjawab heran, “Ya, betul. Ada apa, Tuan?”. Orang tua itu merogoh kantungnya seraya menjawab, “Dahulu ayahmu pernah kusuruh menyamak kulit. Aku belum sempat membayar ongkosnya, ayahmu sudah meninggal. Jadi, terimalah uang ini, sebab engkaulah ahli warisnya.” Dengan gembira Ali mengambil haknya dari orang itu sebanyak 30 dinar.

Tentu saja Fatimah sangat bergembira memperoleh rezeki yang tidak disangka-sangka ketika Ali menceritakan kejadian itu. Dan ia menyuruh membelanjakannya semua agar tidak pusing-pusing lagi merisaukan keperluan seharihari.

Ali pun bergegas berangkat ke pasar.

Sebelum masuk ke dalam pasar, ia melihat seorang fakir menadahkan tangan, “Siapakah yang mau menghutangkan hartanya untuk Allah, bersedekahlah kepada saya, seorang musafir yang kehabisan bekal di perjalanan.” Tanpa berpikir panjang-lebar, Ali memberikan seluruh uangnya kepada orang itu.

Pada waktu ia pulang dan Fatimah keheranan melihat suaminya tidak membawa apa-apa, Ali menerangkan peristiwa yang baru saja dialaminya. Fatimah, masih dengan tersenyum, berkata, “Keputusan Kanda adalah yang juga akan saya lakukan seandainya saya yang mengalaminya. Lebih baik kita menghutangkan harta kepada Allah daripada bersifat bakhil yang dimurkai-Nya, dan menutup pintu surga buat kita.”

Reff: KH. Abdurrahman Arroisi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar